Pattani dan Silungkang


Waktu saya melakukan blogging di berbagai tempat, saya tertarik dengan sebuah tulisan yang ditemui di www.silungkang.com. Ada sebuah tajuk dengan judul "Tenunan Silungkang, Dari Pattani Hingga Ke Silungkang". Berikut adalah sebagian berita tersebut,
yang didalamnya mengisahkan tentang maju mundurnya usaha songket Silungkang dan berbagai usaha yang telah dilakukan untuk mempertahankan tradisi dari nenek moyang tersebut.
Pattani adalah sebuah negeri yang berada di negara tetangga Indonesia yaitu Thailand, sedangkan Silungkang adalah sebuah negeri yang berada di Kota Sawahlunto yang berjulukan Kota Mutiara Hitam di Sumatera Barat, Indonesia.Lantas di mana korelasi atau hubungan antara kedua daerah ini? Jawabannya adalah tenun dan songket. Kemudian, bagaimana ceritanya hingga ada hubungan demikian?
Sejak dulunya, semasa Thailand belum merdeka, Negeri Pattani sudah terkenal dengan batiknya. Batik tersebut diproduksi oleh tangan-tangan cekatan para penenun hampir di seluruh pelosok negeri itu. Kemudian batik tersebut disulap menjadi songket yang beraneka ragam motif, ukuran dan model. Hingga dengan batik itu, nama Pattani dikenal orang di seluruh penjuru Thailand hingga pelosok.
Begitu pula halnya dengan Silungkang. Batik hasil penenunnya juga terkenal seantero Indonesia. Malahan bau wanginya merebak ke belahan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan lainnya. Dengan dasar itu pulalah ratusan penenun Silungkang bergabung untuk bersama-sama maju mengembangkan batik hasil tenunan mereka. Hingga lahirlah Gapersil (Gabungan Pertenunan Silungkang) dengan mendirikan sebuah bangunan / workshop/pabrik tempat mereka bekerja di tepi sungai dan di kaki bebukitan.
Dimasa itu, batik sedang diminati dan dicari masyarakat, sehingga para penenun semakin jaya. Namun, hari berganti, bulan berlalu, tahun berganti hingga beberapa Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dimasa itu para penenun mulai kehilangan pasar. Kemudian berlanjut hilangnya generasi penerus. Ditambah lagi oleh naluri manusia yang suka akan kemewahan membawa mereka kepada perpecahan dan kejatuhan. Akhirnya, perjuangan panjang para penenun pun berakhir. Gapensil pun akhirnya tinggal nama. Hingga kini bangunan itu mulai menampakkan ketuannya karena dimakan masa karena ditimpa hujan dan panas serta didera badai dan topan keirian.
Setidaknya demikian disampaikan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Silungkang, Syahrudin Dt Rangkayo Basa tentang selintas kejayaan tenun Silungkang di masa lalu. Dikatakannya, kini tenunan yang menghasilkan batik dan songket itu hanya tinggal beberapa saja. Namun, selain batik, kini Silungkang juga dikenal dengan kerajinannya. Yaitu kerajinan rotan dan manau yang diolah menjadi berbagai macam bentuk souvenir dan alat rumah tangga seperti kursi, meja, sapu, kamar set, dan lainnya.
Lantas, darimana kepandaian membatik itu di dapat? Seorang tokoh di Silungkang, Eryanto Melhisi yang menyebutkan bahwa kepandaian menenun, membatik dan membuat songket itu dahulunya didapat oleh nenek moyang orang Silungkang dari negeri Pattani di Thailand.
Jadi, disinilah hubungan antara Pattani dan Silungkang. Menurut Anto, karena songket merupakan peninggalan nenek moyang, maka harus dilestarikan dan patut dikembangkan secara besar-besaran. Apalagi di zaman yang serba canggih dan modern ini masyarakat dan kaum tertentu meminati pakaian dengan motif antik dan tradisional sebagaimana halnya ada pada batik.
“Karenanya, mengingat kejayaan di masa lampau dan untuk mengembalikannya ada beberapa langkah yang
perlu dilakukan. Salah satunya dengan mengajak generasi muda untuk membuka diri untuk mempelajari motif khas Songket Silungkang. Kemudian, Pemerintah Kota Sawahlunto harus bisa mencarikan bapak angkat (investor) dalam pemasaran songket tersebut. Begitu juga halnya dengan pengusaha, harus bisa pula mengembangkan motif songket terbaru sesuai dengan selera pasar,” ungkap Anto.
Kemudian, tambah Anto, saat ini, berkat bantuan dan perhatian Pemerintah Kota Sawahlunto, telah berdiri Kampung Pertenunan "Batu Mananggau". Hasilnya bisa dilihat di sepanjang Jalan Lintas Sumatera Silungkang.Selain itu, dalam program PNPM P2KP juga telah ada dilaksanakan pelatihan untuk generasi muda agar terampil membuat songket Silungkang.
Kemudian pada tahun 2009, karena ke khas an dari kerajinan tradisional songket silungkang yang harus dilestarikan, maka Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia memberikan dan menjadikan Desa Silungkang Duo dan Tigo sebagai salah satu desa yang menjadi yang mendapatkan program nasional desa wisata dalam bentuk PNPM Bidang Pariwisata. Harapannya, semakin berkembangnya songket silungkang dan dapat meningkatkan taraf hidup para penenun untuk keluar dari kesulitan ekonomi.
Program PNPM ini berjalan lancar selama tahun 2009 dan 2010, dengan berdirinya 2 (dua) buah kios/rumah pamer songket hasil karya dari kelompok yang tergabung dalam PNPM Bidang Pariwisata. Dapat dilihat di Desa Silungkang Tigo dengan nama kios/rumah pamer"Stasiun Wisata" dan di Desa Silungkang Duo dengan nama "Lubuak Laju". Masing-masing kelompok mengusahakan tenunan songket sebagai base usahanya, dengan tetap melakukan pengembangan disana sini untuk memperkaya aneka souvenir yang berhubungan dengan bahan songket yang mereka hasilkan.


Sumber : Berbagai Sumber (Silungkang Online 2008)

No comments:

Post a Comment